Syarat IPO Perusahaan, Wajib Tahu!

Apa Itu IPO?

IPO merupakan singkatan dari Initial Public Offering. Saat sebuah perusahaan melakukan IPO, berarti perusahaan tersebut menjual sahamnya kepada publik atau masyarakat umum untuk pertama kalinya. Melalui IPO, siapa saja yang memiliki dana bisa membeli saham perusahaan tersebut. Perusahaan mendapatkan dana tambahan, sementara masyarakat yang membeli saham diharapkan bisa memperoleh keuntungan dari dividen atau capital gain.

Sebelum melakukan IPO, sebuah perusahaan biasanya masih bersifat pribadi. Saham yang dimiliki hanya dimiliki oleh segelintir investor, seperti pemilik, founder, keluarga dan teman dekat, serta investor profesional. Publik tidak dapat memiliki akses untuk membeli saham kecuali mereka langsung datang kepada pemiliknya. Namun, tidak semua pemilik perusahaan mau menjual sahamnya kepada orang lain.

Dengan melakukan IPO, perusahaan menjadi go public. Tujuan dari IPO adalah untuk menghimpun modal bagi perusahaan sekaligus membuka akses bagi publik untuk membeli saham perusahaan tersebut. Proses pembelian saham dilakukan melalui pialang atau broker dan dijamin oleh bank investasi. Mereka membeli saham dari perusahaan yang melakukan IPO kemudian mendistribusikan atau menjualnya kepada para investor.

Perusahaan-perusahaan yang sudah dikenal publik dan memiliki citra yang positif kemungkinan akan menarik perhatian banyak investor. Namun, tidak semua investor bisa mendapatkan saham yang mereka inginkan karena dalam IPO, jumlah saham yang ditawarkan masih terbatas.

Apa Keuntungan IPO bagi Perusahaan?

IPO memiliki beberapa keuntungan bagi perusahaan yang memutuskan untuk go public. Menurut Saptono Adi Junarso, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, beberapa keuntungan IPO antara lain:

BACA JUGA :  Menilai Entrepreneurship: Berbagai Level Startup dan Ciri-cirinya

1. Memperoleh pendanaan yang bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis. Dengan melakukan IPO, perusahaan dapat mengumpulkan dana tambahan yang nantinya bisa digunakan untuk ekspansi, investasi, riset dan pengembangan, atau kegiatan lain yang dapat memperkuat bisnis perusahaan.

2. Perusahaan yang sudah melakukan IPO memiliki nilai saham dan harga yang tidak dimiliki perusahaan tertutup. Saham perusahaan yang sudah go public bisa diperdagangkan di pasar modal dan memiliki nilai yang dapat berfluktuasi sesuai dengan permintaan pasar. Hal ini memberikan nilai tambah bagi perusahaan karena sahamnya dapat diperdagangkan secara bebas.

3. Menciptakan kemandirian bagi perusahaan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, perusahaan dapat langsung mencari pendanaan lewat pasar modal. Selain itu, perusahaan terbuka juga lebih mudah mendapatkan mitra strategis yang dapat membantu perusahaan dalam pengembangan bisnisnya.

4. Modal yang besar dapat mendukung kinerja emiten. Dengan modal yang besar, perusahaan dapat melakukan investasi yang lebih besar, meningkatkan kapabilitas operasional, dan memperkuat posisi perusahaan di pasar. Hal ini dapat menciptakan tata kelola perusahaan yang baik dan pada akhirnya, perusahaan akan semakin cepat tumbuh dan berkembang.

5. Bisa mendapatkan insentif pajak dari pemerintah. Pemerintah memberikan keringanan PPh untuk perusahaan publik sebesar 3% dengan syarat jumlah saham yang diperdagangkan minimal 40%. Ini merupakan salah satu keuntungan tambahan bagi perusahaan yang memutuskan untuk go public.

Selain itu, IPO juga memiliki sejumlah keuntungan lain. Saham IPO biasanya dapat terjual dengan cepat. Saat pertama kali LinkedIn melakukan IPO, nilai sahamnya naik dari 45 dolar menjadi 94,25 dolar dalam satu hari. Kenaikan harga yang menjanjikan ini menjadi daya tarik bagi para investor. Investor yang ingin mendapatkan kesempatan memperoleh capital gain akan berburu saham IPO agar dapat untung.

BACA JUGA :  Apa Itu Liabilitas? Definisi, Jenis, dan Manfaatnya untuk Bisnis

Selain itu, IPO juga dapat meningkatkan image perusahaan. Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk go public, akan banyak media dan analis sekuritas yang memperhatikannya. Pemberitaan semacam ini akan memudahkan publik untuk memantau kondisi saham perusahaan tersebut. Bagi perusahaan, publisitas ini tentu akan membantu meningkatkan citra perusahaan di mata publik.

Syarat IPO Perusahaan

Meskipun banyak pengusaha berpikir bahwa melakukan IPO adalah hal yang sulit, sebenarnya syarat perusahaan IPO tidak begitu sulit. Beberapa syarat untuk melakukan IPO antara lain:

1. Perusahaan yang akan melakukan IPO harus berstatus sebagai PT (Perseroan Terbatas) dengan jangka waktu operasional sekurang-kurangnya selama 12 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah memiliki dasar yang kuat dan telah beroperasi dalam jangka waktu yang wajar sebelum memutuskan untuk go public.

2. Perusahaan harus memiliki aktiva bersih berwujud dengan nilai paling kecil Rp5 miliar rupiah. Hal ini dibuktikan lewat laporan keuangan audit tahun buku terakhir serta mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dari auditor. Auditor yang melakukan audit harus merupakan akuntan publik yang sudah terdaftar di OJK/Otoritas Jasa Keuangan.

3. Perusahaan harus menjual setidaknya 150 juta saham atau setara dengan 20% dari jumlah saham yang diterbitkan jika nilai ekuitas kurang dari Rp500 miliar, 15% dari jumlah saham yang diterbitkan untuk nilai ekuitas mulai dari Rp500 miliar sampai dengan Rp2 triliun, dan 10% dari jumlah saham yang diterbitkan untuk total ekuitas lebih dari Rp2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki jumlah saham yang cukup untuk ditawarkan kepada publik.

4. Jumlah pemegang saham publik setidaknya adalah 500 pihak. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan telah menarik minat publik untuk memiliki saham perusahaan tersebut.

BACA JUGA :  7 Cara Retain Customer Agar Bisnis Makin Berkembang

Bagaimana Proses IPO Selanjutnya?

Setelah memenuhi syarat IPO yang tertera di atas, perusahaan dapat melanjutkan ke proses IPO selanjutnya. Proses IPO biasanya dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase pra-penawaran dan fase IPO itu sendiri.

Pada fase pra-penawaran, perusahaan akan mengiklankan diri ke underwriters atau profesional yang berasal dari luar untuk meminta penawaran pribadi atau membuat pernyataan umum untuk memperoleh penawaran dari publik. Perusahaan dapat memilih underwriters untuk memimpin proses IPO mereka.

Underwriters akan terlibat dalam berbagai aspek dalam IPO, mulai dari persiapan dokumen, pengujian, pengarsipan, pemasaran, hingga perilisan. Langkah-langkah IPO yang umum dilakukan antara lain:

1. Underwriters akan melakukan presentasi proposal dan penilaian terkait layanan mereka, jenis sekuritas apa yang sebaiknya diterbitkan, berapa jumlah sahamnya, berapa harga yang ditawarkan, serta perkiraan waktu IPO.

2. Perusahaan secara langsung memilih underwriters dan membuat kesepakatan dengan mereka.

3. Perusahaan membentuk tim


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *