Model Pembelajaran Kooperatif – Zenius untuk Guru

Halo Bapak dan Ibu Guru. Di artikel ini kita akan membahas model pembelajaran kooperatif, dari definisi, kelebihan dan kekurangan, hingga penerapannya di sekolah.

Siapa sih, siswa yang nggak senang kalau belajar dilakukan berkelompok? Rasanya, hampir semua siswa akan bersemangat kalau kelas dibagi ke dalam beberapa tim kecil.

Saat sekolah, saya termasuk siswa yang suka belajar kelompok. Di dalam lingkup kelas yang lebih kecil itu, saya bisa bebas menyampaikan pendapat tanpa takut salah. Karena, fungsi utama dari belajar kelompok memang agar siswa bisa saling berdiskusi dan bertukar ide.

Nah, terkait dengan belajar berkelompok, ada satu model pembelajaran yang mengutamakan pendekatan ini, yaitu model pembelajaran kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif fokus pada kegiatan kelas yang berkelompok. Biasanya, setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 6 siswa.

Tapi, sebenarnya, model pembelajaran kooperatif lebih dari sekadar belajar kelompok, lho. Di sini, siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.

Selain itu, apa hal yang membedakan model pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran berkelompok pada umumnya? Bukannya kelas berkelompok sudah jadi hal yang umum?

Untuk menemukan jawabannya, Bapak dan Ibu Guru perlu pahami dulu pengertian model pembelajaran kooperatif learning, tujuan, unsur penting dan prinsip utama, manfaat, serta jenis-jenisnya. Yuk, kita bahas bareng-bareng!

Apa Itu Model Pembelajaran Kooperatif?

Model pembelajaran kooperatif sebenarnya bukanlah hal yang baru. Terlebih, bagi Bapak dan Ibu Guru yang kegiatan pembelajarannya meliputi praktik, contohnya pelajaran Sains yang membutuhkan kerja sama siswa di laboratorium.

Menurut KBBI, kooperatif artinya bersifat kerja sama, dan bersedia membantu.
Pengertian kooperatif menurut KBBI. (Arsip sobatcloud.com, Dok. KBBI)

Dikutip dari buku Model Pembelajaran Inovatif (2021), model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan berkelompok. Di mana, siswa bekerja sama dalam membangun konsep pengetahuan dan menyelesaikan persoalan.

Trianto dalam Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif & Kontekstual (2014), menambahkan bahwa di pembelajaran kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok. Setiap siswa dalam kelompok akan belajar bersama untuk menguasai materi yang diberikan guru.

Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif membantu siswa untuk belajar dan menyelesaikan tugas berkelompok agar tercapai tujuan bersama. Jadi, setiap siswa punya tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.

Di kelas kooperatif, siswa akan belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri bisa terdiri dari 4 sampai 6 siswa. Tapi, anggotanya harus heterogen.

Setiap kelompok harus terbentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras yang berbeda-beda. Meskipun begitu, mereka harus saling memahami dan membantu satu sama lain.

Nah, apakah Bapak dan Ibu Guru sudah tahu? Sebenarnya, apa tujuan dari pembentukan kelompok dalam model pembelajaran kooperatif?

Jadi, begini awal mulanya. Di tahun 1970-an, Sir James Britton bersama teman-temannya di Inggris menciptakan metode pembelajaran aktif yang dikenal sebagai pembelajaran kolaboratif. Metode ini dikembangkan berdasarkan teori Psikologi Vygotsky.

Britton percaya bahwa pembelajaran seorang siswa berasal dari komunitas pembelajar yang terdiri dari siswa lain. Dia kemudian menempatkan siswa dalam kelompok dan membiarkan mereka untuk belajar dengan cara sendiri. Nah, di sini, interaksi positif antara siswa berhasil terbentuk dalam mencapai target pembelajaran.

BACA JUGA :  Kontranim: Ketika Kata Punya Krisis Identitas

Dari penelitian yang dilakukan Britton, ditemukan bahwa inti pembelajaran kolaboratif adalah landasan kooperatif siswa untuk bekerja sama agar bisa memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan satu sama lain.

Jadi, dibentuknya kelompok belajar bertujuan agar siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Lewat proses interaksi dengan sesama teman, proses berpikir dan kegiatan belajar mereka menjadi lebih maksimal.

“Kalau begitu, model pembelajaran kooperatif dan pembelajaran kelompok yang biasa dilakukan sama saja, dong? Kan, sama-sama menggunakan kelompok di kelas.”

Eits, tentu nggak sama ya, Bapak dan Ibu Guru. Perbedaan yang paling terlihat adalah, di kelompok belajar kooperatif, ada bentuk ketergantungan positif di mana siswa saling membantu dan mendukung proses belajar. 

Sementara, di kelompok belajar biasa atau konvensional, cenderung ada siswa yang mendominasi kelompok, sehingga keberhasilan kelompok hanya bergantung ke satu siswa itu.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah tabel perbedaan model pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran kelompok konvensional.

Kelompok Belajar Kooperatif
Kelompok Belajar Konvensional
Adanya bentuk ketergantungan positif, di mana siswa saling membantu dan memberikan motivasi belajar.
Adanya siswa yang mendominasi atau menggantungkan diri pada kelompok.
Tingkat penguasaan materi setiap siswa diukur dan diberikan umpan balik, sehingga bisa saling mengetahui pengetahuan apa yang perlu ditingkatkan.
Penguasaan materi setiap siswa kurang diperhatikan. Sehingga, tugas-tugas hanya dikerjakan oleh satu anggota dan yang lain hanya “mengikuti”.
Anggota kelompok terdiri dari siswa yang heterogen agar bisa saling mendukung dan melengkapi.
Anggota kelompok biasanya terdiri dari siswa yang homogen.
Ketua kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir, agar setiap orang mempunyai pengalaman memimpin anggotanya.
Ketua kelompok biasanya ditentukan oleh guru, atau siswa dibebaskan memilih ketuanya dengan cara masing-masing.
Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan berkelompok, contohnya kepemimpinan, kemampuan komunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik diajarkan secara langsung.
Keterampilan sosial jarang diajarkan secara langsung.
Selama proses pembelajaran, guru melakukan observasi dan intervensi jika terjadi masalah dalam kelompok.
Guru hanya sesekali melakukan observasi dan intervensi.
Guru selalu memperhatikan setiap proses yang terjadi dalam kelompok belajar.
Guru jarang memperhatikan proses belajar siswa dalam kelompok.
Pembelajaran nggak hanya fokus pada penyelesaian tugas, tapi juga hubungan antarsiswa untuk saling menghargai.
Pembelajaran cenderung fokus pada penyelesaian tugas.
Tabel perbedaan kelompok belajar kooperatif dan kelompok belajar konvensional. (Dok. Trianto dalam buku Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif & Kontekstual)

Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, model pembelajaran kooperatif membantu siswa belajar bersama untuk mencapai keberhasilan kelompoknya. Karena itu, salah satu tujuan model pembelajaran ini adalah membangun nilai kerja sama dan rasa tanggung jawab atas kemampuan belajar temannya.

Model pembelajaran kooperatif meningkatkan kesempatan siswa untuk saling berdiskusi dan menyelesaikan masalah bersama.
Ilustrasi kegiatan pembelajaran kooperatif. (Dok. Tirachardz via Freepik)

Secara umum, ada tiga tujuan utama dari model pembelajaran kooperatif. Di antaranya meningkatkan hasil belajar akademik, penerimaan akan keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

BACA JUGA :  Peluang Kejadian Saling Lepas dan Contoh Soalnya

Lebih jelasnya, tujuan lain dari model pembelajaran kooperatif antara lain:

  1. memaksimalkan proses belajar siswa. Sehingga, mereka bisa meningkatkan prestasi akademik, baik secara individu maupun kelompok.
  2. memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan dan belajar bersama-sama siswa lain.
  3. meningkatkan pemahaman tentang perbedaan latar belakang suku dan pengetahuan.
  4. melatih siswa untuk memperbaiki atau mengatasi masalah yang terjadi dalam kelompok heterogen.
  5. mengembangkan keterampilan proses belajar kelompok dan pemecahan masalah.
  6. meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas secara aktif.
  7. memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok.

Meskipun sudah tersusun secara baik, keberhasilan model pembelajaran kooperatif kembali lagi pada kelompok siswa. Semua tujuan di atas hanya bisa tercapai ketika siswa sama-sama berusaha untuk sampai di tujuan itu.

Menariknya, model pembelajaraan kooperatif mempunyai unsur penting dan prinsip utama. Tentunya, kedua hal ini menjadi pembeda antara model pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran lainnya. Simak di bawah ini, yuk!

Unsur Penting dan Prinsip Utama Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif mempunyai unsur penting dan prinsip utama yang menjadi ciri khas dari model pembelajaran ini. 

Model pembelajaran kooperatif mempunyai unsur dan prinsip utama yang menjadi ciri khas dari model pembelajaran ini.
Penerapan pembelajaran kooperatif yang mengedepankan kerja sama kelompok. (Arsip sobatcloud.com)

Menurut Jonhson & Johnson serta Sutton dalam Model-Model Pembelajaran (2021), ada lima unsur penting model pembelajaran kooperatif, yaitu:

  1. Saling ketergantungan yang bersifat positif antarsiswa.
    Lewat model pembelajaran kooperatif, siswa akan bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Mereka akan saling mendorong dan melengkapi agar tujuan itu tercapai.

    Karena itulah, terbentuk rasa memiliki dalam diri siswa. Di mana, mereka merupakan bagian dari kelompok dan mempunyai andil terhadap kesuksesan kelompoknya.

  1. Interaksi siswa yang semakin meningkat.
    Karena bekerja dalam kelompok, siswa saling berinteraksi untuk membantu keberhasilan satu sama lain. Nggak hanya itu, komunikasi antarsiswa juga meningkat dalam hal penyampaian pendapat terhadap permasalahan yang dihadapi bersama.
  1. Tanggung jawab individual.
    Dalam model pembelajaran kooperatif, setiap siswa mempunyai tanggung jawabnya masing-masing. Contohnya, membantu siswa yang memerlukan bantuan sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai bersama.
  1. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil.
    Model pembelajaran kooperatif menuntut siswa untuk memiliki keterampilan interpersonal. Mereka harus belajar bagaimana cara bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dalam kelompok dan antarsiswa di luar kelompoknya.
  1. Proses kelompok.
    Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa berproses dalam kelompok belajar. Hal ini ditandai dengan adanya kerja sama, diskusi, dan usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Selain kelima unsur penting di atas, model pembelajaran kooperatif juga mempunyai prinsip-prinsip tersendiri, di antaranya:

  1. Penghargaan bagi kelompok yang mencapai kriteria tertentu.
  2. Tanggung jawab individual, di mana suksesnya kelompok bergantung pada proses dan hasil belajar setiap anggota dalam kelompok tersebut.
  3. Kesempatan yang sama untuk sukses, di mana setiap siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Jadi, baik siswa berkemampuan tinggi, sedang, atau rendah sama-sama berusaha untuk melakukan yang terbaik dan berkontribusi dalam kelompok.

Nah, dari unsur penting dan prinsip di atas, Bapak dan Ibu Guru sudah bisa melihat bahwa model pembelajaran kooperatif berperan penting dalam proses belajar siswa. Lalu, sebenarnya, apa saja manfaat dari model pembelajaran ini?

BACA JUGA :  Alexander Graham Bell, Penemu Telepon dan Guru Tunarungu

Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

Sama seperti model pembelajaran lainnya, pembelajaran kooperatif mengajarkan nilai-nilai dan pengetahuan akademis secara bersamaan. Tapi, model pembelajaran ini menyampaikannya melalui proses pengajaran. Di mana, separuh dari jam pelajaran dilakukan dalam kelompok. Sehingga, nilai dan pengetahuan itu bisa tumbuh melalui kegiatan diskusi.

Nggak hanya itu, Thomas Lickona dalam Pembelajaran Kooperatif dan Menumbuhkan Nurani dalam Bekerja (20212) menyampaikan bahwa model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa manfaat khusus, antara lain:

  1. mengajarkan nilai kerja sama dan tolong menolong. 
  2. menumbuhkan rasa keanggotaan dan membangun komunitas dalam kelas.
  3. mengajarkan keterampilan dasar kehidupan, seperti keterampilan mendengar, mengambil perspektif orang lain, berkomunikasi secara efektif, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
  4. meningkatkan pencapaian akademis, penghargaan diri, dan sikap terhadap sekolah.
  5. memberikan sebuah pendekatan alternatif dalam pengelompokkan siswa.

Setelah memahami pengertian, tujuan, unsur, prinsip, dan manfaatnya, apakah Bapak dan Ibu Guru semakin tertarik sama model pembelajarn kooperatif? 

Pas banget, nih. Bagi Bapak dan Ibu Guru yang ingin menerapkannya, ada jenis-jenis model pembelajaran kooperatif learning yang perlu diketahui. Makanya, simak artikelnya sampai akhir, ya!

Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Dalam buku Metodologi Pembelajaran: Strategi, Pendekatan, Model, Metode Pembelajaran (2020), disebutkan ada 5 model pembelajaran kooperatif. Namun, sebenarnya, jenis pembelajaran ini terus berkembang seiring perkembangan pendidikan yang ada.

Ada beberapa jenis model pembelajaran kooperatif, di antaranya STAD, TGT, NHT, Jigsaw, dan TSTS.
Mengenal jenis-jenis model pembelajaran kooperatif. (Arsip sobatcloud.com)

Berikut ini adalah beberapa jenis model pembelajaran kooperatif yang bisa menjadi referensi Bapak dan Ibu Guru.

  1. Student Teams Achievement Division (STAD)

Menurut Slavin (1980), STAD adalah model pembelajaran di mana siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. 

Karena proses pembelajarannya berlangsung dalam kelompok, siswa terpacu untuk saling membantu dan mendorong dalam menguasai keterampilan. Dengan begitu, siswa bisa lebih aktif dan pembelajarannya berjalan menyenangkan.

  1. Teams Games Tournament (TGT)

TGT merupakan metode pembelajaran yang menggunakan turnamen atau kompetisi sebagai kegiatan antarkelompok. Hal ini bertujuan agar siswa terus termotivasi untuk belajar dan berusaha menjadi yang terbaik.

Bapak dan Ibu Guru bisa ketahui informasi lengkap tentang jenis pembelajaran kooperatif ini di artikel Model Pembelajaran TGT.

  1. Numbered Head Together (NHT)

Model pembelajaran kooperatif yang satu ini fokus pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Biasanya, model NHT digunakan sebagai alternatif dari struktur kelas tradisional. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok, guru akan memanggil nomor kelompok dan meminta mereka untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

  1. Jigsaw

Sesuai namanya, model pembelajaran ini mengambil cara kerja sebuah gergaji yang berbentuk zigzag. Setiap anggota kelompok akan diberikan tugas yang berbeda, tetapi tugas setiap kelompoknya akan sama. 

Jadi, anggota dari kelompok yang berbeda dengan penugasan yang sama akan membentuk kelompok baru untuk berdiskusi. Setelah itu, mereka akan kembali ke kelompok awal untuk menjelaskan hasil diskusi dari kelompok baru.

  1. Two Stay Two Stray (TSTS)

Model pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan pada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. 

Caranya, dua orang dari kelompok akan mengunjungi kelompok lain untuk mendengar hasil diskusi mereka. Sementara, dua orang anggota lainnya akan tetap tinggal dan bertugas untuk membagikan hasil kerja ke kelompok tamu. 

Untuk setiap jenis, langkah-langkah model pembelajaran kooperatif berbeda-beda. Tapi, pastinya, ada tahap pembentukan kelompok yang menjadi kegiatan utama dalam kelas.

Jadi, bagaimana nih, Bapak dan Ibu Guru? Kira-kira, dari kelima jenis model pembelajaran kooperatif di atas, adakah yang ingin diterapkan? Atau, Bapak dan Ibu Guru sudah menerapkan jenis yang lainnya? Coba bagikan pengalamannya di kolom komentar, ya!

Selain model pembelajaran, penting juga bagi Bapak dan Ibu untuk memanfaatkan teknologi dalam kelas. Salah satunya yang mudah dan bisa diakses gratis adalah LMS (Learning Management System) sobatcloud.com untuk Guru. Penasaran? Langsung saja klik gambar di bawah ini, yuk!

lms zenius untuk guru zenru

Referensi

Cooperative Learning: The Foundation for Active Learning – David W. Johnson and Roger T. Johnson (2019)

Review of Educational Research, Cooperative Learning – Robert E. Slavin (1980)

Model Pembelajaran Inovatif – Meilani Safitri, dkk (2021)

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) – SerupaID (2022)

Model-Model Pembelajaran – Dasep Bayu Ahyar, dkk (2021)

Metodologi Pembelajaran: Strategi, Pendekatan, Model, Metode Pembelajaran – Lufri, dkk (2020)

Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif & Kontekstual – Trianto Ibnu Badar Al-Tabany (2014)

Pembelajaran Kooperatif dan Menumbuhkan Nurani dalam Bekerja – Thomas Lickona (2021)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *