Mau Kuliah Di Jepang? Simak Biaya Hidup Dan Perbedaan Sistem Pendidikannya!

Apa Perbedaan Kuliah Di Universitas Di Jepang Dan Indonesia?

Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan di Jepang memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Di Jepang, sistem pendidikan yang diterapkan menganut empat skala penilaian, yaitu A, B, C, dan F. Skala penilaian ini mirip dengan rata-rata penilaian di banyak universitas di luar negeri.

– A: Sangat baik (80-100%)
– B: Baik (70-79,99%)
– C: Rata-rata atau lulus (60-69,99%)
– F: Gagal (0-59,99%)

Perbedaan ini dapat dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang, karena di Indonesia sistem penilaian biasanya menggunakan skala 0-100 atau 0-4. Dengan adanya perbedaan ini, mahasiswa Indonesia harus berusaha untuk beradaptasi dengan sistem penilaian yang baru agar dapat mendapatkan hasil yang memuaskan.

Selain itu, perbedaan lain dalam sistem pendidikan di Jepang adalah lamanya pendidikan untuk mendapatkan gelar sarjana. Di Indonesia, mahasiswa biasanya menempuh pendidikan selama empat tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Namun, di Jepang, terdapat beberapa program studi yang membutuhkan waktu lebih lama, seperti program studi kedokteran hewan, gigi, dan farmasi yang membutuhkan enam tahun untuk menyelesaikannya.

Namun, di sisi lain, kuliah di Jepang juga menawarkan fleksibilitas yang tinggi bagi mahasiswa internasional. Mahasiswa internasional di Jepang memiliki kebebasan untuk memilih semester akademik yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, untuk mendapatkan gelar sarjana di Jepang, mahasiswa harus menyelesaikan setidaknya 124 kredit (kursus).

Dilarang Foto Slide

Salah satu perbedaan menarik dalam kegiatan kuliah di Jepang adalah larangan untuk memotret slide presentasi atau merekamnya dalam sejumlah seminar penelitian. Hal ini biasanya diumumkan di depan ruangan seminar bahwa peserta tidak diperbolehkan memotret isi penelitian yang sedang dipresentasikan. Alasannya adalah karena data yang dipresentasikan masih bersifat rahasia dan belum dipublikasikan secara resmi.

BACA JUGA :  Begini Cara Bayar IndiHome Via M-Banking BCA

Kebijakan ini dapat dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap penelitian yang sedang dilakukan oleh presenter. Dengan menghindari pengambilan gambar atau rekaman, diharapkan penelitian tersebut tetap terjaga kerahasiaannya dan dapat diolah dengan baik oleh presenter sebelum dipublikasikan secara resmi.

Makan Bayar Sendiri-sendiri

Budaya makan di Jepang juga memiliki perbedaan dengan budaya makan di Indonesia. Di Jepang, terutama dalam konteks kehidupan kampus, dosen mungkin akan mengajak mahasiswanya untuk makan bersama. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap orang harus membayar makanannya sendiri-sendiri.

Hal ini berbeda dengan budaya di Indonesia, di mana dosennya memiliki beban sosial untuk mentraktir mahasiswanya saat makan bersama. Namun, di Jepang, mahasiswa tetap harus membayar sendiri untuk makanannya. Perbedaan ini mungkin terasa sedikit tidak biasa bagi mahasiswa Indonesia yang sudah terbiasa dengan budaya makan di Indonesia.

Dosen Jepang Tidak Suka Bagi Nomor HP

Perbedaan lain yang menarik dalam kegiatan kuliah di Jepang adalah cara komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Di Indonesia, mahasiswa seringkali mengirim pesan melalui WhatsApp kepada dosen mereka untuk meminta bimbingan atau informasi terkait kuliah.

Namun, di Jepang, semua nomor telepon dosen adalah rahasia. Para dosen hanya mau berkomunikasi lewat email resmi di kampus. Bahkan, mahasiswa di Jepang yang berusaha untuk mendapatkan bimbingan dari dosen pembimbingnya harus bergerak cepat mengikuti ritme dosen tersebut agar dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Perbedaan ini mungkin terkait dengan perbedaan dalam sistem pendidikan dan budaya di Jepang. Di Jepang, para dosen lebih fokus pada pengajaran yang sesuai dengan ilmu yang mereka dalami, sementara di Indonesia, dosennya mungkin lebih sibuk dengan beban administrasi dan penelitian.

BACA JUGA :  Perbedaan BPJS Mandiri dan Pemerintah: Kamu Termasuk yang Mana?

Bagaimana Dengan Biaya Hidup Di Jepang?

Salah satu pertimbangan penting bagi mahasiswa internasional yang ingin kuliah di Jepang adalah biaya hidupnya. Meskipun Jepang terkenal sebagai negara yang aman, biaya hidup di sana tergolong tinggi. Namun, dengan memilih area yang pas dan menerapkan strategi yang tepat, biaya hidup dapat ditekan.

Beberapa kota yang ramah bagi para mahasiswa adalah Osaka, Fukuoka, Kyoto, Yokohama, dan Sapporo. Di kota-kota ini, terdapat banyak pilihan akomodasi yang terjangkau bagi mahasiswa internasional.

Salah satu pilihan akomodasi yang dapat dipertimbangkan adalah tinggal di asrama universitas. Banyak pemerintah atau universitas yang menyediakan asrama bagi mahasiswa internasional. Meskipun jumlah asrama terbatas, banyak mahasiswa internasional yang memilih tinggal di asrama karena lebih terjangkau dan terasa lebih aman.

Namun, jika ingin memiliki privasi yang lebih dan lebih bebas, banyak mahasiswa internasional memilih untuk tinggal di komodasi swasta. Harga sewa apartemen di Jepang bervariasi, tergantung pada lokasi dan fasilitas yang disediakan. Rata-rata biaya sewa per kamar adalah 50-70.000 yen atau sekitar 450-650 USD. Namun, perlu diingat bahwa biaya internet, listrik, gas, dan air biasanya tidak termasuk dalam biaya sewa.

Selain itu, ada juga pilihan lain seperti wisma tamu atau rumah gaijin. Rumah ini biasanya dapat disewa dalam waktu yang singkat, sehingga cocok bagi mahasiswa internasional yang hanya tinggal sementara di Jepang atau yang ingin mencoba tinggal di tempat yang berbeda saat liburan.

Selain biaya akomodasi, biaya makan juga menjadi pertimbangan penting. Di Jepang, terdapat banyak pilihan tempat makan yang terjangkau, seperti minimarket. Di minimarket, Kamu bisa menemukan berbagai makanan pengganjal perut dengan harga rata-rata 300-600 yen. Tempat ini juga buka selama 24 jam, sehingga Kamu bisa membeli makanan kapan pun Kamu butuhkan.

BACA JUGA :  Kenali 4 Penyebab WiFi Indihome Sering Gangguan dan Solusinya

Selain minimarket, terdapat juga makanan cepat saji seperti Burger King, KFC, dan McD yang dapat menjadi pilihan untuk makan murah. Harga makanan di tempat ini berkisar antara 100-700 yen per kali makan.

Selain itu, terdapat juga restoran keluarga di Jepang yang menawarkan makanan dengan harga terjangkau. Biaya sekali makan di restoran keluarga biasanya berkisar antara 800-1300 yen. Restoran ini umumnya menyediakan berbagai masakan barat seperti burger, pizza, gratin, dan pasta. Kamu juga bisa memesan salad dan sup di sana.

Bila Kamu ingin lebih hemat, Kamu juga bisa memasak sendiri. Di Jepang, terdapat banyak sekali tempat berbelanja sayur yang bisa Kamu pilih, seperti OK Supermarket, Life, BigA, Maruetsu, Gyomu Super, Seiyu, dan toko kelontong lokal. Jika toko-toko kebutuhan sehari-hari ini mudah dijangkau dari tempat tinggalmu, Kamu bisa berbelanja di sana dan memasak sendiri makanan sesuai selera.

Dalam hal keuangan, sebagai mahasiswa internasional yang kuliah di Jepang, Kamu mungkin membutuhkan suntikan dana tambahan. Terlebih jika Kamu belum memiliki penghasilan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Kamu bisa menggunakan aplikasi sobatcloud.com untuk transfer uang ke luar negeri, termasuk ke Jepang. Aplikasi sobatcloud.com juga dapat digunakan untuk top up berbagai e-wallet seperti GoPay, OVO, ShopeePay, LinkAja, dan Dana.

Dengan menggunakan aplikasi sobatcloud.com, Kamu dapat menikmati berbagai kemudahan dalam transfer uang. Kamu bisa transfer antar bank lokal dengan lebih hemat biaya, isi e-wallet dengan biaya hemat, dan juga kirim uang ke luar negeri untuk kebutuhan kuliah Kamu.

Dalam kesimpulan, kuliah di Jepang memiliki perbedaan yang signifikan dengan kuliah di Indonesia. Perbedaan tersebut terutama terlihat dalam sistem pendidikan, budaya kuliah, dan biaya hidup. Namun, dengan pemahaman yang baik tentang perbedaan ini dan persiapan yang matang, kuliah di Jepang dapat menjadi pengalaman yang berharga dan bermanfaat bagi mahasiswa internasional.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *