Kebudayaan Paleolitikum – Materi Sejarah Kelas 10

Hai, pembaca sobatcloud.com!

Coba elo pergi ke dapur dan perhatikan berbagai alat yang biasa elo gunakan untuk memasak. Ada pisau untuk memotong bahan makanan, rice cooker untuk menanak nasi, atau mungkin elo punya teknologi terbaru seperti air fryer?

Alat memasak adalah sebagian kecil dari teknologi yang kita untuk membantu kita untuk bertahan hidup saat ini.

Nah, di zaman dahulu, sebelum semua teknologi ini ada, apa yang digunakan manusia untuk memproduksi makanan dan menunjang kehidupan mereka?

Di dalam artikel ini gue akan membahas tentang kehidupan manusia dan ciri-ciri zaman paleolitikum.

Pembahasan gue akan dimulai dari ciri-ciri zaman paleolitikum, makhluk hidup yang ada pada zaman tersebut, hingga kebudayaan yang tercipta pada era paleolitikum.

Yuk simak pembahasannya!

Pengantar: Menuju Zaman Paleolitikum

Sebelum gue membahas tentang ciri-ciri zaman paleolitikum, gue mau mengajak elo melihat perkembangan bumi. Secara geologi, bumi mengalami 4 zaman, yaitu archaikum, paleozoikum, mesozoikum, dan neozoikum.

Zaman archaikum berlangsung sekitar 2500 juta tahun yang lalu. Pada masa ini kondisi bumi masih sangat panas dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Memasuki zaman paleozoikum, sekitar 340 juta tahun yang lalu, temperatur bumi mulai mengalami penurunan. Kehidupan mulai muncul di laut, seperti binatang satu sel yang tidak bertulang. Akhirnya, makhluk hidup di laut dapat naik ke daratan.

Pada masa mesozoikum, diperkirakan 140 juta tahun yang lalu, temperatur bumi semakin menurun. Kondisi ini membuat jumlah makhluk hidup semakin banyak. Di era ini juga, banyak reptil-reptil raksasa mulai hidup.

Pada masa neozoikum, kondisi bumi sudah semakin nyaman untuk ditinggali. Pada zaman inilah hewan-hewan menyusui dan manusia purba mulai muncul. Terdapat dua zaman penting di era ini, yaitu zaman tertier (zaman ketiga) dan zaman quartair (zaman keempat). 

Zaman Tersier

Pada zaman tersier, binatang-binatang menyusui sudah mulai berkembang. Pada zaman ini juga hewan-hewan raksasa sudah mulai mengalami kepunahan. Berbagai jenis kera, serta manusia purba juga mulai muncul.

BACA JUGA :  Info Kuliah: Jurusan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Universitas Indonesia

Zaman Quartair

Zaman ini merupakan tanda terpenting dari kehidupan manusia purba. Manusia purba mengalami berbagai perkembangan di dalam hidupnya. Nah, di zaman ini juga kehidupan manusia purba terbagi ke dalam dunia periode yaitu zaman pleistosen dan zaman holosen.

Zaman Pleistosen

Zaman Pleistosen atau zaman es merupakan kondisi ketika kondisi bumi tertutup oleh lapisan es. Kondisi ini berlangsung sekitar 2.000.000 hingga sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Nah, di zaman pleistosen inilah manusia purba mulai menciptakan berbagai peralatan untuk bertahan hidup. Peralatan yang digunakan pun masih menggunakan bahan-bahan dari alam, contohnya batu.

Periodisasi zaman batu, ciri zaman paleolitikum
Periodisasi zaman batu (Arsip sobatcloud.com)

Penggunaan batu sebagai peralatan membuat zaman ini disebut Zaman Batu. Pembagian zaman batu pun terdiri atas 4 zaman yaitu, paleolitikum, mesolitikum, neolitikum dan megalitikum.

Namun, pada artikel kali ini kita hanya fokus membahas mengenai kebudayaan dan ciri zaman paleolitikum.

Apa itu Paleolitikum?

Nah, sebelum kita membahas ciri zaman paleolitikum, kita pahami dahulu arti paleolitikum, yuk.

Secara etimologis, kata paleolitikum diambil dari bahasa Yunani, yaitu paleo yang berarti tua atau kuno dan lithos yaitu batu.

Jadi, paleolitikum merupakan zaman batu tua. Zaman ini berlangsung sekitar 450.000 hingga 350.000 SM.

Kata “batu tua” merujuk pada peralatan yang digunakan manusia zaman itu yang menggunakan batu untuk bertahan hidup dan berburu. Peralatan batu yang digunakan pun masih sangat sederhana dan kasar.

Dalam bertahan hidup, manusia zaman paleolitikum masih berburu dan dan mengumpulkan makanan karena peralatan mereka masih sederhana dan ketidakmampuan mereka untuk memproduksi makanan.

Elo bisa cari tau lebih lanjut mengenai masa berburu dan mengumpulkan makanan dengan membaca artikel di bawah ini.

Kehidupan Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Pada masa paleolitikum ini, manusia juga ketergantungan pada kondisi alam. Mereka hidup bertempat tinggal di gua-gua dekat sungai. Karena ketergantungannya terhadap alam, manusia kala itu hidup berpindah-pindah (nomaden).

Manusia purba memilih tinggal di dekat sungai karena sungai dapat menjadi tempat untuk mencari makanan, seperti ikan, udang, dan makhluk air lainnya.

Sedangkan gua dapat menjadi tempat untuk melindungi diri dari cuaca panas dan hujan, serta dari ancaman hewan buas.

BACA JUGA :  Materi Psikotropika SMA

Ciri-Ciri Zaman Paleolitikum

ciri-ciri zaman paleolitikum
Ciri-ciri zaman paleolitikum (Arsip sobatcloud.com)

Nah, dari tulisan di atas kita bisa menyimpulkan ciri-ciri zaman paleolitikum.

Ciri zaman paleolitikum yang pertama adalah pada masa ini, manusia belum mengenal tulisan. Makanya zaman ini juga disebut zaman pra-aksara.

Ciri zaman paleolitikum yang kedua adalah manusia masih sepenuhnya bergantung kepada alam. Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering).

Karena ketergantungannya ini, ciri zaman paleolitikum yang selanjutnya adalah hidup berpindah-pindah (nomaden) di dekat gua dan sungai.

Seperti namanya, ciri zaman paleolitikum yang selanjutnya adalah peralatan yang digunakan berasal dari batu. Pada masa ini batu belum diolah, jadi bentuk batu kasar dan sederhana.

Kebudayaan Paleolitikum di Indonesia

Berdasarkan pembagian oleh Arkeolog, terdapat dua bentuk kebudayaan Masa Paleolitikum di Indonesia, yaitu Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

Kedua nama tersebut diambil dari nama wilayah yang menjadi lokasi penemuan peninggalan manusia era paleolitikum. Kebudayaan Ngandong berkembang di daerah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sementara Kebudayaan Pacitan berkembang di wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Kebudayaan Ngandong

Kebudayaan Ngandong pertama kali ditemukkan oleh Von Koenigswald, seorang ahli Paleontologi dan geologi asal Jerman, pada tahun 1934.

Bentuk dari kebudayaan tersebut adalah alat serpih atau flakes.

Flakes biasanya digunakan sebagai pisau, belati, ataupun alat untuk menusuk. Selain itu, ditemukan juga kapak genggam.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa alat-alat tersebut berasal dari era Pleistosen atas.

periodisasi era pleistosen
Periodisasi era pleistosen (Arsip sobatcloud.com)

Seperti ciri zaman pleistosen yang sudah kita pelajari, kebudayaan masyarakat pada saat itu adalah mengumpulkan makanan dan berburu (food gathering).

Selain itu, tidak ditemukkan kehidupan rohani pada masyarakat era tersebut, karena tidak ditemukan adanya peninggalan mengenai alat-alat keagamaan.

Flakes

Flakes adalah alat serpih yang berasal dari batu. Batu yang digunakan tidak hanya berasal dari batu-batu biasa, terkadang juga terbuat dari batu-batu berwarna, seperti batu kalsedon.

Kehidupan Masyarakat pada Zaman Praaksara

Layaknya sebuah pisau, flakes digunakan untuk memotong hewan buruan dan mengupas tanaman.

Flakes juga ditemukan di beberapa wilayah lain di Pulau Jawa, seperti Sangiran, Pacitan, Gombong. Flakes juga ditemukan di Lahat, Sumatera Utara dan Wangka di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kebudayaan Pacitan

Hasil kebudayaan Pacitan juga pertama kali ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1935. Kebudayaan ini ditemukan di Desa Punung, Pacitan.

BACA JUGA :  5 Rumus Rubik 3×3 untuk Pemula

Beberapa hasil penemuannya adalah kapak perimbas dan alat serpih.

Gua Song Terus
Sumber gambar: Wikimedia Commons

Kapak Genggam

Kapak genggam merupakan sebuah alat yang serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai. Kapak ini juga disebut juga sebagai kapak perimbas.

Pembuatan kapak genggam sangatlah sederhana. Satu sisi batu dipangkas atau dipotong sampai tajam. Sedangkan, sisi lainnya dibiarkan sebagai alat untuk menggenggam.

Kapak perimbas tidak hanya ditemukan di Pacitan. Kapak perimbas juga ditemukan di Jampang Kulon dan Parigi di Jawa Timur, Tambang Sawah dan Lahat di Sumatera, dan Awangbangkal di Kalimatan.

Manusia Pendukung Kebudayaan Paleolitikum

Pada masa Paleolitikum, ada beberapa jenis manusia purba yang cara hidupnya dianggap sesuai dengan peninggalan dari zaman paleolitikum.

Manusia purba pendukung kebudayaan Pacitan adalah Pithecanthropus erectus.

Sedangkan manusia purba pendukung kebudayaan Ngandong adalah Pithecanthropus erectus, Pithecanthropus robustus, Meganthropus palaeojavanicus, Homo soloensis, dan Homo wajakensis.

Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois, seorang ahli paleoantropologi asal Belanda, pada tahun 1890 di situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur.

Ia menemukan rahang bawah, tempurung kepala, tulang paha, serta geraham atas dan geraham bawah di Trinil. 

Kebudayaan Paleolitikum - Materi Sejarah Kelas 10 26

Kata Pithecanthropus Erectus berasal dari bahasa Yunani yang berarti manusia kera yang berdiri tegak. Beberapa ciri Pithecanthropus Erectus adalah memiliki volume otak sekitar 900cc dan memiliki tinggi badan mencapai 165 cm.

Meganthropus Palaeojavanicus

Meganthropus Palaeojavanicus artinya adalah manusia besar tua dari Jawa. Meganthropus Paleojavanicus ini ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 hingga 1941. Fosil ini ditemukan di daerah Sangiran, Jawa Tengah.  

Beberapa fosil yang ditemukan adalah rahang bawah,  gigi taring, geraham atas, dan geraham bawah. Menurutnya, beberapa fosilnya yang ditemukan berasal dari era Pleistosen bawah.

Perbedaan Manusia Purba dan Manusia Modern

Penutup

Nah, itu lah penjelasan gue tentang kebudayaan paleolitikum dan ciri-ciri zaman paleolitikum. Nah, elo bisa pelajari materi ciri-ciri zaman paleolitikum lebih dalam dengan klik banner di bawah ini.

Kebudayaan Paleolitikum - Materi Sejarah Kelas 10 27

pembaca sobatcloud.com, yuk belajar bersama sobatcloud.com!

sobatcloud.com punya berbagai paket belajar yang bisa membantu elo belajar dan mencapai sekolah atau PTN impian elo.

Langsung aja klik banner di bawah ini untuk tahu paketnya!

Langganan Zenius

Terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat dan selamat belajar!

Penulis : Luis Moya

Sumber:

Noor, Y., & Masnyur. (2015). Menelusuri Jejak-Jejak Masa Lalu Indonesia. Banjarmasin Press.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *